Daniah mengerjapkan matanya
tersentak. Ia seperti bermimpi mendengar orang berteriak memanggil namanya.
Rasa kantuk masih mengantung di pelupuk mata. Hoaam. Menguap lebar.
Mengelengkan kepala berulang mencoba mencari kesadaran. Dia duduk bersandar. Masih setengah sadar.
“ Nona muda.” Berulang kali dan disusul ketukan di pintu. “ Apa anda bisa bangun sekarang.”
Hemmm, ada apa sebenarnya ini. Jam
berapa memang sekarang. Saat namanya kembali disebut berulang dia memaksakan
menyeret tubuhnya membuka pintu. Laki-laki yang semalam mengantarnya masuk ke
dalam kamar sudah berdiri di depan pintu.
“ Maaf nona membangunkan anda selarut ini.” Dia menundukan kepalanya.
“ Ada apa pak?” Daniah masih setengah sadar, bicara dalam kebingungan.
Aku ngantuk sekali, Daniah menguap lagi berulang.
“ Tuan muda sudah pulang, sudah sampai di gerbang utama.” Kata pelayan itu lagi.
“ Ia, terus?”
Terus kenapa kalau laki-laki jahat itu pulang, apa aku harus menyambutnya!
“ Silahkan ikut saya menyambut tuan muda di depan.”
Apa! Aku benar-benar harus melakukannya. Kenapa cuma aku yang harus menyambutnya. kenapa juga harus disambut, ini kan sudah malam.
Walau pun merasa kesal, tapi dia tidak
bisa melakukan apa-apa selain menurut. Daniah mengikuti langkah kaki laki-laki
di depannya, menyeret kakinya. Dia menguap, berpegangan pada tangga agar
tidak terjatuh. Daniah memilih bersender di pintu, agar dia tidak ambruk. Dia
memejamkan matanya tanpa ia sadari. Tersentak saat mendengar decit mobil
berhenti.
Sekertaris Han, keluar lalu
bergegas membuka pintu belakang. Selelah itu keluar laki-laki yang tetap tampan
walaupun dilihat dengan mata mengantuk sekali pun.
“ Nona, mendekatlah ke arah mobil.” Pelayan itu bicara lagi pada Daniah.
“ Apa! Saya.” Daniah menunjuk dirinya, pelayan itu mengangukan kepala.
Daniah berjalan mendekat ke arah
suaminya. tapi dia hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa.
“ Kau datang menyambut ku.” Tangan
suaminya sudah mencengkram dagunya, membuatnya mendongak. Namun segera ia
mengalihkan pandangan dari bersitatap mata.
“ Ia tuan.” Terbata Daniah menjawab.
Dia mengikuti langkah kaki suaminya, dan sekertaris Han, sementara pelayan tadi berjalan di belakangnya.
- - -
“ Nona bisakah anda menganti pakaian tuan muda.”
Daniah yang sedang melepaskan
sepatu Saga tersentak. Dia menatap Han tidak percaya. Bagaimana dia bisa
menyuruhnya menganti pakaian laki-laki jahat ini. Sementara Saga yang sedang
duduk di sofa tidak bereaksi apa-apa.
“ Ah, saya ambilnya bajunya sebentar, tapi tolong sekertaris Han saja yang melakukan.”
Gila apa, memang kenapa aku harus menganti baju orang ini.
Daniah menyerahkan pakaian tidur pada
Han, akhirnya dialah yang membantu Saga. Daniah menerima setelan jas suaminya.
mendekapnya di dadanya. Dia membelakangi
suaminya dan menundukan kepala. Setelah selesai berganti pakaian Saga berjalan
menuju tempat tidur. Dia ambruk di sana.
“ Selamat malam nona, silahkan kembali istirahat, saya permisi.”
“ Eh ia, terimakasih atas kerja keras anda sekertaris Han.”
Daniah berjalan mengikuti Han sampai di depan pintu.
“ Nona, apa nona sudah membaca
lembaran aturan dan tugas yang saya berikan kepada nona?” Sekertaris Han berbalik lagi.
“ Eh, ia sudah.”
“ Baiklah, selamat malam nona.”
Han membungkukan badannya sebelum menghilang
di balik pintu yang tertutup. Tersadar dia masih memegang pakaian suaminya,
Daniah masuk ke dalam ruang ganti pakaian lalu meletakan baju itu di dalam keranjang.
Keluar dari ruangan itu dia melewati suaminya yang sudah memiringkan tubuhnya.
Dia berdiri lama disamping tempat tidur Saga, menatap lekat laki-laki itu.
Laki-laki yang akan ia benci seumur
hidupnya. Laki-laki pemilik tubuhnya. Laki-laki yang harus ia layani sampai dia
bosan dan membuangnya. Dia sungguh berharap permainan rumah-rumahan ini akan
cepat berakhir. Ia berharap agar menjadi mainan membosankan yang akan segera
di buang ke tempat pembuangan oleh suaminya sendiri.
“ Matikan lampu!”
“ Eh, ia tuan. Selamat malam.”
Bergegas, dia mematikan semua
lampu. Lalu berjalan menuju sofa, dia sudah menyelimuti tubuh. Dan terlelap
begitu saja. Berharap mimpinya indah.
BERSAMBUNG................
tersentak. Ia seperti bermimpi mendengar orang berteriak memanggil namanya.
Rasa kantuk masih mengantung di pelupuk mata. Hoaam. Menguap lebar.
Mengelengkan kepala berulang mencoba mencari kesadaran. Dia duduk bersandar. Masih setengah sadar.
“ Nona muda.” Berulang kali dan disusul ketukan di pintu. “ Apa anda bisa bangun sekarang.”
Hemmm, ada apa sebenarnya ini. Jam
berapa memang sekarang. Saat namanya kembali disebut berulang dia memaksakan
menyeret tubuhnya membuka pintu. Laki-laki yang semalam mengantarnya masuk ke
dalam kamar sudah berdiri di depan pintu.
“ Maaf nona membangunkan anda selarut ini.” Dia menundukan kepalanya.
“ Ada apa pak?” Daniah masih setengah sadar, bicara dalam kebingungan.
Aku ngantuk sekali, Daniah menguap lagi berulang.
“ Tuan muda sudah pulang, sudah sampai di gerbang utama.” Kata pelayan itu lagi.
“ Ia, terus?”
Terus kenapa kalau laki-laki jahat itu pulang, apa aku harus menyambutnya!
“ Silahkan ikut saya menyambut tuan muda di depan.”
Apa! Aku benar-benar harus melakukannya. Kenapa cuma aku yang harus menyambutnya. kenapa juga harus disambut, ini kan sudah malam.
Walau pun merasa kesal, tapi dia tidak
bisa melakukan apa-apa selain menurut. Daniah mengikuti langkah kaki laki-laki
di depannya, menyeret kakinya. Dia menguap, berpegangan pada tangga agar
tidak terjatuh. Daniah memilih bersender di pintu, agar dia tidak ambruk. Dia
memejamkan matanya tanpa ia sadari. Tersentak saat mendengar decit mobil
berhenti.
Sekertaris Han, keluar lalu
bergegas membuka pintu belakang. Selelah itu keluar laki-laki yang tetap tampan
walaupun dilihat dengan mata mengantuk sekali pun.
“ Nona, mendekatlah ke arah mobil.” Pelayan itu bicara lagi pada Daniah.
“ Apa! Saya.” Daniah menunjuk dirinya, pelayan itu mengangukan kepala.
Daniah berjalan mendekat ke arah
suaminya. tapi dia hanya berdiri dan tidak melakukan apa-apa.
“ Kau datang menyambut ku.” Tangan
suaminya sudah mencengkram dagunya, membuatnya mendongak. Namun segera ia
mengalihkan pandangan dari bersitatap mata.
“ Ia tuan.” Terbata Daniah menjawab.
Dia mengikuti langkah kaki suaminya, dan sekertaris Han, sementara pelayan tadi berjalan di belakangnya.
- - -
“ Nona bisakah anda menganti pakaian tuan muda.”
Daniah yang sedang melepaskan
sepatu Saga tersentak. Dia menatap Han tidak percaya. Bagaimana dia bisa
menyuruhnya menganti pakaian laki-laki jahat ini. Sementara Saga yang sedang
duduk di sofa tidak bereaksi apa-apa.
“ Ah, saya ambilnya bajunya sebentar, tapi tolong sekertaris Han saja yang melakukan.”
Gila apa, memang kenapa aku harus menganti baju orang ini.
Daniah menyerahkan pakaian tidur pada
Han, akhirnya dialah yang membantu Saga. Daniah menerima setelan jas suaminya.
mendekapnya di dadanya. Dia membelakangi
suaminya dan menundukan kepala. Setelah selesai berganti pakaian Saga berjalan
menuju tempat tidur. Dia ambruk di sana.
“ Selamat malam nona, silahkan kembali istirahat, saya permisi.”
“ Eh ia, terimakasih atas kerja keras anda sekertaris Han.”
Daniah berjalan mengikuti Han sampai di depan pintu.
“ Nona, apa nona sudah membaca
lembaran aturan dan tugas yang saya berikan kepada nona?” Sekertaris Han berbalik lagi.
“ Eh, ia sudah.”
“ Baiklah, selamat malam nona.”
Han membungkukan badannya sebelum menghilang
di balik pintu yang tertutup. Tersadar dia masih memegang pakaian suaminya,
Daniah masuk ke dalam ruang ganti pakaian lalu meletakan baju itu di dalam keranjang.
Keluar dari ruangan itu dia melewati suaminya yang sudah memiringkan tubuhnya.
Dia berdiri lama disamping tempat tidur Saga, menatap lekat laki-laki itu.
Laki-laki yang akan ia benci seumur
hidupnya. Laki-laki pemilik tubuhnya. Laki-laki yang harus ia layani sampai dia
bosan dan membuangnya. Dia sungguh berharap permainan rumah-rumahan ini akan
cepat berakhir. Ia berharap agar menjadi mainan membosankan yang akan segera
di buang ke tempat pembuangan oleh suaminya sendiri.
“ Matikan lampu!”
“ Eh, ia tuan. Selamat malam.”
Bergegas, dia mematikan semua
lampu. Lalu berjalan menuju sofa, dia sudah menyelimuti tubuh. Dan terlelap
begitu saja. Berharap mimpinya indah.
BERSAMBUNG................
You'll Also Like
-
Huayu Tianxian: This director is such a hypocrite!
Chapter 82 1 days ago -
How can you become stronger if you don't build up bonds?
Chapter 78 1 days ago -
Huayu: Starting with Rejecting 00s Actresses on a Dating Show
Chapter 87 1 days ago -
Hong Kong Entertainment 1979: A Beating Up the Manager at the Start
Chapter 114 1 days ago -
The Secret Cult Chronicles of the Decaying Lake Manor
Chapter 89 1 days ago -
Gu Long: Dominating the Martial Arts World Starting from Transmigrating as A Fei
Chapter 95 1 days ago -
This Uchiha is too popular
Chapter 48 3 days ago -
American homeless people, surviving in the city
Chapter 76 3 days ago -
The anti-American vanguard starts in Mexico!
Chapter 37 3 days ago -
Awakening the Messi template, Florentino Pérez begs me to join Real Madrid
Chapter 88 3 days ago